widgets

Rabu, 08 April 2015

DO'A BERSAMA MENJELANG UJIAN NASIONAL



          Bulan April merupakan bulan yang bikin was-was para pelajar di Indonesia. Dikarenalan pada bulan ini berbagai macam ujian sekolah sudah mulai dilaksanakan. Mulai dari ujian praktek, ujian akhir sekolah, dan sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional.

Berbagai macam cara yang ditempuh para murid sekolah untuk menghadapi Ujian nasional tersebut. Ada yang berusaha dengan jalan yang batil dan ada juga yang berusaha dengan cara yang hak. Contoh usaha yang batil yaitu dengan datang ke Dukun dan minta jampi-jampi biar nilainya bagus. Kemudian untuk contoh usaha dengancara yang haq, yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah, silaturahmi ke Ibu Guru atau Bapak Guru dan mohon doa restu, ada juga yang memperbanyak sodakoh kepada Anak yatim dan dhuafa serta berdoa bersama-sama.

Seperti yang dilaksanakan oleh Siswa SMA AL ISLAM 1 Surakarta ini. Para siswa ini berkumpul dan berkoordinasi untuk menghimpun dana yang akan disalurkan ke anak Yatim dan Dhuafa yang mana saat itu tujuan utamanya adalah di Pondok Pesantren Yatim Darul Ihsan. Siswa kelas tiga yang datang ke Darul Ihsan ini merupakan perwakilan dari 9 kelas di SMA AL ISLAM 1 Surakarta. Tidak semua siswa bisa hadir di Darul Ihsan mengingat ruang dan sarpra yang kurang memadai.


Selain memberikan santunan kepada Darul Ihsan, para siswa ini juga mengadakan permainan asah otak. Bagi santri Darul Ihsan yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, maka akan mendapatkan hadiah Doorprise. Acara ini kemudian ditutup dengan Doa bersama yang dipimpin oleh salah satu ustad di Darul Ihsan yaitu ustadz Azmi, yang intinya memohon agar para siswa SMA AL ISLAM 1 Surakarta bisa lulus 100% dan mendapatkan hasil ujian yang memuaskan. Aamiin


"Kami sangat berterimakasih sekali kepada Siswa SMA AL ISLAM 1 Surakarta yang sudah berkenan memberikan santunan kepada kami. Kami mohon maaf apabila didalam penyambutan kami kurang memuaskan di hati para siswa. Kami berharap semoga Siswa SMA AL ISLAM 1 Surakarta bisa lulus semua dan mendapat nilai yang memuaskan, serta bisa meneruskan ke Perguruan Tinggi sesuai keinginan masing-masing siswa" Kata Ust Ibnu Makruf selaku Mudir Darul Ihsan menutup perjumpaan pada sore hari itu.













Guru dan Murid seperti seumuran

Senin, 06 April 2015

LOMBA TAHFIDZ YAYASAN SYEIKH EID QATAR

         Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan kepada kami kesempatan sehingga bisa menambah postingan di blog yang sudah lama vakum ini. Artikel ini kami tulis bukan untuk kesombongan melainkan untuk berbagi pengalaman dan berbagi ilmu buat kita semua.

         Tanpa diduga dan tanpa disadari, Pondok Pesantren Darul Ihsan mendapat undangan dari Yayasan Ash-Shilah Jakarta untuk bisa hadir dalam acara Nikah Gratis 100 pasang yang disebut acara MAWADDAH. Pondok kami mendapat kehormatan untuk tampil di panggung yang megah untuk membawakan program unggulan kami yaitu Tahfidzul Qur'an. Tapi sebelum tampil di panggung yang megah tersebut santri kami diseleksi dan di tandingkan dengan ma'had-ma'had yang lainnya.

       Alhamdulillah ada 5 santri kami yang lolos seleksi. Yaitu, Muhammad Arum, Muhammad Iqbal Muharam, Ahmad Munir, Azzam Hawari, dan Ihsan Nur Rohim. Kami beserta para santri yang lolos seleksi diharapkan bisa hadir dalam acara Mawaddah pada tanggal 9 Maret 2015.
Singkat cerita sampailah rombongan kami di Jakarta pada tanggal 8 Maret 2015. Kami di Jakarta disambut dengan hangat dari panitia. Kami diinapkan disebuah Hotel di daerah Tebet Timur. Acara mawaddah dilaksanakan tak jauh dari hotel tempat kami istirahat.

         Satu hal yang kami sempat kaget. Ternyata pas tanggal 9 Maret 2015 santri kami tidak hanya tampil untuk tahfidz diatas panggung. Tapi di atas panggung tersebut santri kami mendapatkan hadiah yang kami anggap sangat besar nilainya. Santri kamipun merasa senang dan bersyukur sekali. Merekapun berkata sambil bercanda "REJEKINE SEKOLAH NENG DARUL IHSAN" (rejekinya sekolah di Darul Ihsan, red).

Eksis dulu di Monas hehehehe

Pose dulu di Permadani Merah

Tahfidzul Qur'an


Pemberian Hadiah dari perwakilan Syeikh Qatar

Foto bersama Santri dari Ma'had lain

Penerimaan Hadiah

Kamis, 20 Februari 2014

MARI BERBAGI



         Darul Ihsan, seorang anak yatim kelahiran Batang, Jawa Tengah kini sedang terbaring di ruang operasi RS Kustati Solo. Awalnya anak yang sudah lama ditinggal mati ayahnya ini rencana mau sekolah di Pondok kami, yaitu Pondok Pesantren Darul Ihsan. Akan tetapi takdir belum berpihak pada anak ini. Awal tahun pelajaran 2013 - 2014, yang seharusnya anak ini bergembira karena akan masuk sekolah yang baru akan tetapi justru dia mengalami kecelakaan dan luka patah tulang pada paha kaki kanannya.
     
      Dengan keterbatasan dan kemampuan dari pihak keluarga, maka anak ini hanya di periksakan ke sangkal putung. Hasil awal memang menggembirakan karena anak ini sudah bisa berjalan dalam wktu yang singkat. Akan tetapi lambat laun terjadi kejanggalan pada anak kelahiran 5 Desember 2002 ini. Ada semacam lubang pada paha kaki kanan tepatnya pada tulang yang patah, dan semakin hari semakin semakin parah lukanya.
        
        Kemuadian pihak keluarga membawa anak yang oleh kedua orang tuanya diberi nama Ariza Seva ini untuk diperiksakan ke Dokter. Hasil pemeriksaan mengatakan bahwa kaki anak ini ada goresan dari dalam akibat patahnya tulang paha sehingga menyebabkan daging yang didalam robek. Cara mengatasinya harus melalui operasi. Sedangkan biaya operasinya diperkirakan sekitar 18 juta rupiah.
      
      Keluarga yang dengan keterbatasan dan kemampuan dalam ekonominya, saat ini sangat berharap kepada para dermawan untuk bisa berbagi dan beramal sholeh menginfakan sebagian harta anda untuk membantu biaya operasi Ariza Seva. Segala kebaikan dan perhatian para dermawan, kami hanya bisa berdoa semoga Allah akan membalasnya dengan yang lebih baik, Aamiin....
        
        Bantuan bisa dikirim ke Rek Bank Syariah Mandiri dengan No. 7015943437 atas nama Yayasan Darul Ihsan Solo. Bagi yang sudah memberikan bantuan mohon untyuk segera konfirmasi dengan sms ke nomer  085-647-059-115 atas nama Fajar Kurniawan, untuk pengecekan jumlah dana yang terkumpul......

         Jazakumullah Khoiron Katsiiron........

Kamis, 18 Juli 2013

Formulir Pendaftaran Calon Santri Pondok Pesantren Darul Ihsan

Bagi yang ingin mendaftarkan putranya ke Ponpes Darul Ihsan silakan untuk mengisi Formulir yang telah kami sediakan.
Klik Disini

Rabu, 17 Juli 2013

Ladang Pahala

Di tahun ajaran baru 2013-2014, jumlah santri Ponpes Yatim Darul Ihsan bertambah menjadi 51 santri,dengan jumlah santri tersebut kami berniat untuk meningkatkan sarana dan prasarana diantaranya dengan pengadaan DIPAN TINGKAT, sehingga dipan yang kami butuhkan sejumlah 26 buah, dengan harga 1 dipan Rp 1jt. Bagi para dermawan yg ingin berperan dalam program kami ini, salurkan Zakat,Infak,Shodakoh anda ke Rek BSM 7015943437 AN Yayasan Darul Ihsan Solo atau hub Ust Fajar di 085647059115. Jazakumullah


Minggu, 13 Januari 2013

Sabung / Latihan Beladiri

Didalam kehidupan pasti ada lawan katanya, atau dengan istilah kerennya adalah berbanding baliknya. contohnya, ada siang ada malam, ada pria ada wanita, ada baik ada buruk, dan sebagainya. Oleh karena itu, dengan adanya lawan kata tersebut, ponpes yatim darul ihsan mencoba mengenalkan kepada anak didik untuk bisa mengenal cara menyerang dan cara bertahan ketika diserang. Karena tidak ada didunia ini akan istilah damai, karena Allah swt telah menakdirkan bahwa orang2 kafir itu adalah musuh Islam, dan suatu saat pasti akan terjadi peperangan yang besar antara kaum muslimin dan kaum kafirin.
Melalui pondok pesantren darul ihsan ini, anak didik diberi pelatihan ilmu beladiri, kemudian berenang, kemudian memanah, dan insya Allah juga akan diajari cara berkuda. Akan tetapi untuk tahap awal kami memberikan pelatihan ilmu beladiri terlebih dahulu.Berikut potongan video yang kami ambil :



Sabtu, 30 Juni 2012

CAMPING AKHIR TAHUN

Menginjak kenaikan kelas dan kelulusan, Ponpes Yatim Darul Ihsan mengadakan acara akhir tahun berupa Camping. Santri yang berjumlah 39 anak itu, kita bawa ke Kaki Gunung Lawu tepatnya di Kecamatan Kalisoro Bumi Perkemahan Sekipan.
Kita mengadakan event ini dengan tujuan untuk mendidik anak-anak berlatih hidup mandiri dan hidup berdampingan dengan alam. Disana kita kenalkan kepada anak-anak gimana cara kita merawat alam, gimana cara kita menjaga kebersihan lingkungan, gimana cara kita menghadapi cuaca dingin dan hujan, dan sebagainya.
Berikut foto-foto yg sempat kami ambil :







Itulah beberapa Foto kegiatan Camping Santri kami.....
Semoga bermanfaat untuk kita semua, Amiin.....

Jumat, 29 Juni 2012

Doa Sesudah Sholat Dhuha

Doa sesudah sholat dhuha tidak dibatasi. Kita boleh berdoa apa saja asalkan bukan doa untuk keburukan. Doa yang terkenal dalam mazhab Syafi’i ada pada paragraf berikut. Selain doa itu, kita boleh membaca doa yang kita sukai. Namun, karena ada aturan mazhab, maka hendaklah kita jangan melupakan agar memulai doa itu dengan menyebut nama ALLAH, memuji syukur kepada-NYA dan kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.


















ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘A DHUHAA ‘UKA - WAL BAHAA ‘A BAHAA ‘UKA – WAL JAMAALA JAMAALUKA – WAL QUWWATA QUWWATUKA – WALQUDRATA QUDRATUKA – WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA.

ALLAAHUMMA IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU – WA IN KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU – WA IN KAANA MU’ASSARAN FA YASSIRHU – WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU – WA IN KAANA BA’IIDAN FA QARRIBHU,

BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WAJAMAALIKA, WA QUWWATIKA, WA  QUDRATIKA. AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.

ARTINYA:
“Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU – dan kecantikan adalah kecantikan-MU – dan keindahan adalah keindahan-MU – dan kekuatan adalah kekuatan-MU – dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU - dan perlindungan itu adalah perlindungan-MU.

Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah – Dan jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah – dan jikalau sukar maka mudahkanlah – dan jika haram maka sucikanlah - dan jikalau masih jauh maka dekatkanlah

Dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan Dan kekuasaan-MU. Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.

Sabtu, 28 April 2012

Seperti di Israel, Wapres Boediono Mulai Sibuk Atur Suara Adzan

Wapres Boediono meminta agar Dewan Masjid melakukan pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid-masjid. Wapres menilai suara adzan yang terdengar sayup-sayup dari jauh terasa lebih merasuk ke sanubari dibanding suara yang terlalu keras. (Catatan: penilaian wapres Boediono ini mencerminkan 'jahilnya' beliau terhadap syariat adzan itu sendiri karena Rasulullah SAW menganjurkan suara adzan harus keras bukan sayup-sayup, hadits nabi: "Tidaklah mendengar suara muadzin bagi jin dan manusia serta (segala) sesuatu, kecuali memberikan kesaksian untuknya pada hari Kiamat." [HR Al Bukhari].
Berkaca dari apa yang disampaikan Wapres tersebut, sebenarnya aturan soal pengeras suara itu sudah sejak lama diatur Kementerian Agama (Kemenag). Seperti dikutip detikcom dari situs bimasislam.kemenag.go.id, Jumat (27/4/2012), aturan itu sudah ada 1978. Soal pengeras suara itu diatur dalam instruksi Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam.
Soal pengeras suara di masjid diatur dalam keputusan nomor: Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Keputusan itu ditandatangani Dirjen Bimas Islam saat itu, Kafrawi, pada 17 Juli 1978.
Berikut aturan Bimas Islam mengenai syarat-syarat penggunaan pengeras suara:
1.         Perawatan penggunaan pengeras suara yang oleh orang-orang yang terampil dan bukan yang mencoba-coba atau masih belajar. Dengan demikian tidak ada suara bising, berdengung yang dapat menimbulkan antipati atau anggapan tidak teraturnya suatu masjid, langgar, atau musala
2.         Mereka yang menggunakan pengeras suara (muazin, imam salat, pembaca Alquran, dan lain-lain) hendaknya memiliki suara yang fasih, merdu, enak tidak cempreng, sumbang, atau terlalu kecil. Hal ini untuk menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid dan bahkan jauh daripada menimbulkan rasa cinta dan simpati yang mendengar selain menjengkelkan.
3.         Dipenuhinya syarat-syarat yang ditentukan, seperti tidak bolehnya terlalu meninggikan suara doa, dzikir, dan salat. Karena pelanggaran itu bukan menimbulkan simpati melainkan keheranan umat beragama sendiri tidak menaati ajaran agamanya
4.         Dipenuhinya syarat-syarat di mana orang yang mendengarkan dalam keadaan siap untuk mendengarnya, bukan dalam keadaan tidur, istirahat, sedang beribadah atau dalam sedang upacara. Dalam keadaan demikian (kecuali azan) tidak akan menimbulkan kecintaan orang bahkan sebaliknya. Berbeda dengan di kampung-kampung yang kesibukan masyarakatnya masih terbatas, maka suara keagamaan dari dalam masjid, langgar, atau musala selain berarti seruan takwa juga dapat dianggap hiburan mengisi kesepian sekitarnya.
5.         Dari tuntunan nabi, suara azan sebagai tanda masuknya salat memang harus ditinggikan. Dan karena itu penggunaan pengeras suara untuknya adalah tidak diperdebatkan. Yang perlu diperhatikan adalah agar suara muazin tidak sumbang dan sebaliknya enak, merdu, dan syahdu.
Di dalam instruksi itu juga diatur bagaimana tata cara memasang pengeras suara baik suara ke dalam ataupun keluar. Juga penggunaan pengeras suara di waktu-waktu salat.
Terkait "intervensi" suara adzan yang dilakukan oleh wapres Boediono, Ketua DPP slah satu Parpol Islam, M Arwani Thomafi, mengatakan, pengaturan soal suara azan melalui pengeras suara, terlalu berlebihan. Menurutnya, masih banyak tantangan bagi umat Islam di Indonesia, daripada sekadar mengatur suara azan.
"Apakah suara azan itu mengganggu? Perlu diketahui bahwa lantunan azan juga mencerminkan ekspresi keberagaman seseorang. Apakah kemudian ekspresi keberagaman lainnya juga diatur?" kata dia melalui pesan singkatnya, Jumat (27/4).
Pernyataannya itu disampaikan sebagai tanggapan atas permintaan Wakil Presiden Boediono saat Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, hari ini. Saat itu, Wapres meminta agar suara azan melalui pengeras suara diatur. "Sebaiknya, Wapres fokus bagaimana memajukan umat Islam, daripada hanya mengatur suara azan."
Dikatakannya, masih banyak persoalan bangsa ini yang memerlukan perhatian pemerintah. Untuk itu, pihaknya meminta agar Wapres mengklarifikasi pernyataannya. "Karena, hal ini bisa melukai hati umat Islam Indonesia."
Pengaturan soal suara adzan, mengingatkan kita dengan suasana di wilayah pendudukan Palestina, di mana rezim zionis Israel dengan alasan suara adzan mengganggu warga, melakukan pengaturan ketat soal adzan ini. Padahal ratusan tahun suara adzan sudah berkumandang di wilayah Palestina dan juga di Indonesia tentunya.(fq/detik/republika)

Hanya Setan yang Nggak Suka Adzan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Jika panggilan sholat(adzan) di kumandangkan setan akan lari sambil terkentut-kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila Panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqomat di kumandangkan setan kembali berlari dan jika iqomat selesai di kumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata; Ingatlah ini dan itu. Dan terus saja melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah di laksanakan dalam sholatnya.” (HR.Bukhari,no573)
Menurut Mutawakkil, pernyataan Wapres menunjukkan bahwa orang nomor dua di Indonesia itu bukanlah sosok Pancasilais. Pasalnya, sila pertama dalam Pancasila adalah 'Ketuhanan Yang Maha Esa'. Pasal itu tentang ibadah dan beragama. Selain itu,  kata dia, seharusnya Wapres lebih fokus untuk menyelesikan masalah krusial di negeri ini dibandingkan merespons masalah pengaturan suara Adzan seperti kemiskinan dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Mutawakkil yakin, bahwa hanya segelintir orang yang protes karena terganggu dengan suara Adzan. Terlebih suara Adzan dikumandangkan bukan di waktu-waktu istirahat seperti waktu tidur di malam hari. Adzan dikumandangkan saat orang harus beraktivitas. Artinya, seharusnya tidak ada yang terganggu istirahatnya karena mendengar suara Adzan.

Sumber :
http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/pwnu-jatim-kecam-pernyataan-wapres-soal-azan.html

Sabtu, 21 April 2012

WONG FEI HUNG (INSYA ALLAH) MUSLIM

 
Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China . Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong , Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch'in yang korup dan penindas. Dinasti Ch'in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch'in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch'in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea ). Jika saja pemerintah Ch'in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch'in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad'afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.[rasapas.wordpress.com]

Selasa, 17 April 2012

Kreasi Anak Yatim Darul Ihsan Solo

Satu minggu santri darul ihsan solo menjalani libur sekolah. Dikarenakan siswa kelas 6 SD sedang menjalani Ujian Akhir sekolah (UAS). Untuk mengisi liburan, maka pengurus ponpes darul ihsan solo mengadakan berbagai acara, diantaranya : Lomba Tahfidz, Lomba Cerdas Cermat, Outbound, da Lomba Hasta Karya.
Acara demi acara berjalan dengan lancar, dan tidak ada kekurangan suatu apapun. Lomba Tahfidz dibagi 3 kelompok, yaitu Juz 30, Juz, 29, dan Juz 28. Alhamdulillah ternyata santri darul ihsan bagus semua dalam tahfidnya.
Loba Hasta Karya disponsori oleh percetakan IVORIE, yang mana temanya adalah teknologi. Kami mengambil lomba dalam bentuk merangkai dan mendesain jam dinding. Alhamdulillah, para santri memang kreatif dan inovatif, sehingga dalam batas waktu 2 jam mereka sudah bisa menyelesaikannya.







Jumat, 06 Januari 2012

JILBAB LEBIH MENJAGA DIRIMU

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Jilbab, apa sih manfaatnya? Banyak wanita yang menanya-nanyakan hal ini karena ia belum mendapat hidayah untuk mengenakannya. Berikut ada sebuah ayat dalam Kitabullah yang disebut dengan "Ayat Hijab". Ayat ini sangat bagus sekali untuk direnungkan. Moga kita bisa mendapatkan pelajaran dari ayat tersebut dari para ulama tafsir. Semoga dengan ini Allah membuka hati para wanita yang memang belum mengenakannya dengan sempurna.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Apa Itu Jilbab?
Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa jilbab adalah pakaian atas (rida’)[1] yang menutupi khimar. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, ‘Ubaidah, Al Hasan Al Bashri, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakho’i, dan ‘Atho’ Al Khurosaani. Untuk saat ini, jilbab itu semisal izar (pakaian bawah). Al Jauhari berkata bahwa jilbab adalah “mulhafah” (kain penutup).[2]
Asy Syaukani rahimahullah berkata bahwa jilbab adalah pakaian yang ukurannya lebih besar dari khimar.[3] Ada ulama yang katakan bahwa jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh badan wanita. Dalam hadits shahih dari ‘Ummu ‘Athiyah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,
لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
Hendaklah saudaranya mengenakan jilbab untuknya.[4] Al Wahidi mengatakan bahwa pakar tafsir mengatakan, “Yaitu hendaklah ia menutupi wajah dan kepalanya kecuali satu mata saja.”[5]
Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Zaadul Masiir memberi keterangan mengenai jilbab. Beliau nukil perkataan Ibnu Qutaibah, di mana ia memberikan penjelasan, “Hendaklah wanita itu mengenakan rida’nya (pakaian atasnya).” Ulama lainnya berkata, “Hendaklah para wanita menutup kepala dan wajah mereka, supaya orang-orang tahu bahwa ia adalah wanita merdeka (bukan budak).”[6]
Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa jilbab adalah mulhafah (kain penutup atas), khimar, rida’ (kain penutup badan atas) atau selainnya yang dikenakan di atas pakaian. Hendaklah jilbab tersebut menutupi diri wanita itu, menutupi wajah dan dadanya.[7]
Kesimpulan mengenai maksud jilbab dan khimar, silakan lihat gambar www.muslimah.or.id [8] berikut ini.
khimar
jilbab_2
Mengenakan Jilbab, Ciri-Ciri Wanita Merdeka
Dalam ayat yang kita kaji saat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memerintahkan para wanita mukminat—khususnya para istri dan anak perempuan Nabi karena kemuliaan mereka—yaitu supaya mereka mengulurkan jilbabnya. Tujuannya adalah untuk membedakan antara para wanita jahiliyah dan para budak wanita.[9]
As Sudi rahimahullah mengatakan, “Dahulu orang-orang fasik di Madinah biasa keluar di waktu malam ketika malam begitu gelap di jalan-jalan Madinah. Mereka ingin menghadang para wanita. Dahulu orang-orang miskin dari penduduk Madinah mengalami kesusahan. Jika malam tiba para wanita (yang susah tadi) keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi hajat mereka. Para orang fasik sangat ingin menggoda para wanita tadi. Ketika mereka melihat para wanita yang mengenakan jilbab, mereka katakan, “Ini adalah wanita merdeka. Jangan sampai menggagunya.” Namun ketika mereka melihat para wanita yang tidak berjilbab, mereka katakan, “Ini adalah budak wanita. Mari kita menghadangnya.”
Mujahid rahimahullah berkata, “Hendaklah para wanita mengenakan jilbab supaya diketahui manakah yang termasuk wanita merdeka. Jika ada wanita yang berjilbab, orang-orang yang fasik ketika bertemu dengannya tidak akan menyakitinya.”[10]
Penjelasan para ulama di atas menerangkan firman Allah mengenai manfaat jilbab,
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal.” (QS. Al Ahzab: 59)
Asy Syaukani rahimahullah menerangkan, “Ayat (yang artinya), ” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal”, bukanlah yang dimaksud supaya salah satu di antara mereka dikenal, yaitu siapa wanita itu. Namun yang dimaksudkan adalah supaya mereka dikenal, manakah yang sudah merdeka, manakah yang masih budak. Karena jika mereka mengenakan jilbab, itu berarti mereka mengenakan pakaian orang merdeka.”[11]
Inilah yang membedakan manakah budak dan wanita merdeka dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa wanita yang tidak berjilbab berarti masih menginginkan status dirinya sebagai budak. Hanya Allah yang beri taufik.
Mengenakan Jilbab Lebih Menjaga Diri
Mengenai ayat,
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” (QS. Al Ahzab: 59)
Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya dan menganggapnya rendah seperti anggapan mereka itu budak. Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.”[12]
Allah Maha Pengampun
Di akhir ayat, Allah Ta’ala katakan,
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Allah Maha Pengampun dan Penyayang terhadap apa yang telah lalu di masa-masa jahiliyah, di mana ketika itu mereka (para wanita) tidak memiliki ilmu akan hal ini."[13]
Artinya, bagi wanita yang belum mengenakan jilbab, Allah masih membuka pintu taubat selama nyawa masih dikandung badan, selama malaikat maut belum datang di hadapannya.
Jangan Lupa untuk Dakwahi Keluarga
Dakwahi keluarga untuk berjilbab dan menutup aurat, itu yang seharusnya jadi skala prioritas. Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja diperintahkan untuk memulainya dari istri dan anak-anak perempuannya sebelum wanita mukminat lainnya sebagaimana perintah di awal ayat.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6)
Ya Allah, bukakanlah hati keluarga dan kerabat kami yang belum berjilbab untuk segera berjilbab dengan sempurna.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


Prepared at night for 1.5 hours in lovely Sakan-Riyadh, KSU, on 29th Dzulhijjah 1431 H (04/12/2010)
By: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Rida’ dan Izar adalah pakaian seperti ketika berihrom. Rida’ untuk bagian atas, ihrom untuk bagian bawahnya.
[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 11/242.
[3] Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 6/79.
[4] HR. Muslim no. 890.
[5] Fathul Qodir, 6/79.
[6] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Mawqi’ At Tafasir, 5/150.
[7] Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, hal. 671.
[9] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/242.
[10] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/243.
[11] Fathul Qodir, 6/79.
[12] Taisir Al Karimir Rahman, hal. 671.
[13] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/243.